Senin, 13 Januari 2014

Eksotika Kawasan Kota Lama Jalan Kepodang Semarang

Scene Jl. Kepodang Kota Lama Semarang
Jalan Kepodang di kawasan kota lama Semarang, baru saja dilapisi paving-block. Sekarang tampak lebih rapi, cantik dan gilar-gilar. Kawasan ini tidak jauh dari Gereja Blenduk ikon kota lama Semarang. Sayang, drainase di kiri dan kanan jalan yang memang tak terlalu lebar itu tidak pula sekalian dibangun kembali. Yang tampak ialah got yang mampet, dengan air comberan yang kotor. Celakanya, di perempatan jalan itu, tempat para penjual ayam jago petarung, justru banyak tumpukan sampah, potongan kayu-kayu, bambu, plastik, dan sebagainya yang menumpuk dan semakin menyumbat aliran got. Padahal di kawasan inilah pusat kegiatan yang selalu ramai dari pagi hingga siang, di bawah teduhnya bangunan-bangunan lama yang menjulang. Lengkap dengan warung gulai dan pedagang kaki lima. Sesekali di sini ada pula penjual obat yang menggelar dagangannya.Suasana inilah yang menjadikan kawasan kota lama dengan bangunan-bangunan tua itu menjadi hidup.


Poster ajakan sketsa bareng. Banyak orang-orang menyaksikan tanpa kami sadari ketika kami beraksi


Di sepanjang jalan Kepodang memang banyak bangunan tua peninggalan zaman kolonial yang berjajar, berimpit, berdesakan, yang membuat kawasan ini menjadi eksotik. Kebanyakan bangunan-bangunan tua itu tidak terawat, meski masih memantulkan keunikan bentuk dan keindahan ornamen-ornamen yang menghiasinya. Malah sebagian di antaranya, dinding-dindingnya mengelupas, ditumbuhi tanaman-tanaman liar, dicengkeram akar-akar yang menjalar. Tapi suasana yang demikian itu justru menjadi daya tarik kami untuk menjadikannya obyek-obyek sketsa.

Rudi Hartanto, teman kami, merupakan salah seorang sketser dan kontributor Urban Sketching dunia, yang tidak bosan-bosannya mengambil bangunan-bangunan di kawasan ini menjadi obyek berkarya sketsa.Sudah sekitar tiga tahun pula kami sesekali bertemu di kawasan ini untuk membuat sketsa bareng dengan teman-teman Indonesia's Sketcher-Semarang. Beberapa kali pula kelompok ORArT ORET yang juga gemar corat-coret membikin sketsa bersama di tempat ini.


Searah jarum jam: bangunan tua di sekitar perempatan, beberapa teman mensketsa yang lain mengabadikan, mejeng bersama dengan peserta baru, bergambar bersama setelah selesai sketsa bareng.

Pernah suatu kali kami membuat sketsa bangunan di bagian timur kawasan ini yang tidak beratap lagi. Meski tanpa atap, dinding fasadnya memiliki jendela-jendela yang unik, bahkan terdapat ornamen kala di ambang pintunya. Sebulan kemudian, akibat hujan deras dan tiupan angin kecang, dinding bangunan yang sudah mulai keropos itu roboh. Kini tinggal puing-puing, tapi kami sempat mengabadikan dalam rekaman sketsa.

Di samping obyek bangunannya, suasana kawasan dengan para penjual dan pembeli yang melakukan transaksi, para bebotoh ayam jago, kurungan ayam, pagar-pagar bambu, warung kaki lima dengan atap bentangan-bentangan plastik, bagi kami amat menarik direkam menjadi karya-karya sketsa.

Belum lama ini kami bertemu lagi untuk bersketsa-ria di sana. Inilah beberapa sketsa yang merupakan jejak rekam kawasan eksotik itu.... 

Bangunan tua yang sudah tak beratap



Bangunan tanpa atap  yang kemudian roboh setelah kami buat sketsanya
Pemandangan di sekitar perempatan Jl. Kepodang

Deretan bangunan di sisi selatan  















































Para penjual dan bebotoh jago petarung






Pak Marmo penjual ayam jago   









Rudi H, seorang Urban Sketcher sedang mensketsa



























Seorang teman sedang mensketsa (atas), santai sejenak di warung kaki lima (bawah).





Kamis, 15 November 2012

Keanekaragaman Ungkapan Karya Sketsa Para Anggota Komunitas Indonesia’s Sketchers


Keanekaragaman Ungkapan Karya Sketsa Para Anggota Komunitas Indonesia’s Sketchers

Oleh: Aryo Sunaryo


Komunitas Indonesia’s Sketchers, Visi dan Manifestonya
Indonesia’s Sketchsers yang disingkat IS merupakan sebuah grup terbuka pada jejaring sosial Faceobook dengan situs http://www.facebook.com/ groups/240007800116/?ref=ts&fref=ts. Sebagai komunitas dalam dunia maya itu, IS juga memiliki blog dengan alamat http://indonesiasketchers.blogspot. com/p/about-us.html. Sampai dengan bulan Februari 2012 tercatat lebih dari 2.900-an orang tergabung dalam kelompok ini. Sekarang ini (September 2012) anggotanya hampir mencapai 5.000 orang. Sebagian besar anggota IS boleh dikatakan merupakan anggota pasif, dalam pengertian lebih berperan sebagai pengamat atau apresian terhadap karya-karya sketsa yang di-posting dalam grupnya daripada banyak menghasilkan karya sketsa untuk diunggah dalam wall  FB IS. Mereka yang rajin mengirim karya-karya sketsa sekitar 20 persennya. Meskipun demikian, kita dapat melihat karya-karya sketsa hasil posting-an yang terdokumentasikan di album, wall, dan file, hingga ribuan banyaknya.
Indonesia’s Sketchers (IS) digagas pada bulan Agustus 2009 oleh Atit Dwi Indarty. Ide ini muncul ketika ia mengikuti perkembangan sebuah kelompok sketser internasional yang tergabung dalam Urban Sketchers, yang pada saat itu belum ada wakil sketser dari Indonesia yang dapat memberikan gambaran tentang Indonesia melalui sketsa. Ide ini juga timbul atas dasar keinginan untuk belajar bersama dalam sebuah grup. Tidak lama setelah IS digagas, Atit bertemu dengan seorang sketser asal Indonesia di Urban Sketchers, yakni Dhar Cedhar, yang juga memiliki visi dan misi yang sama. Mereka ingin menggalakkan seni sketsa di Indonesia, khususnya sketsa yang dibuat langsung di depan obyek sebagai karya yang dapat berdiri sendiri dan memberikan kontribusi bagi Indonesia melalui karya tersebut.
Komunitas IS memiliki sistim kepengurusan yang terdiri atas pengurus inti dan pengurus kondisional. Pengurus inti adalah pengurus yang dipilih setiap dua tahun sekali untuk mengatur jalannya IS, sedangkan pengurus kondisional ditentukan untuk mendukung program-program tertentu yang sifatnya lebih sementara, misalnya dalam kegiatan pameran, workshop, dan lain-lain. Calon-calon pengurus adalah anggota-anggota yang aktif, atau yang mengajukan diri dan yang bersedia menjadi pengurus.
Dalam perjalanannya, setelah melalui berbagai posting karya para anggotanya, gathering dan sharing yang dilakukan oleh beberapa kelompok, interaksi dan diskusi secara on-line, IS kemudian menetapkan tujuan yang tertuang dalam rumusan visinya, serta “aturan main” atau mekanisme berkarya sketsa, semacam pandangan kelompok yang mengarahkan tujuan kelompok dalam apa yang mereka sebut sebagai manifesto.
Visi IS adalah: Mengembangkan semangat bertutur/ bercerita tentang kondisi di sekitar kita melalui sketsa langsung di lokasi. Sementara pada manifesto IS, dinyatakan dalam enam pernyataan sebagai berikut:
  1. Mensketsa apa yang dilihat/ dialami di lokasi melalui pengamatan langsung, baik di dalam maupun di luar ruangan.
  2. Bercerita tentang lingkungan tempat tinggal dan pengamatan saat bepergian melalui sketsa.
  3. Mensketsa situasi dan kondisi apa adanya.
  4. Bebas menggunakan media, baik manual ataupun digital.
  5. IS menghargai gaya setiap individu.
  6. Memberikan keterangan singkat situasi, kondisi, tempat, waktu dan teknis atas sketsa yang dibuat. Selanjutnya, pada bagian akhir manifesto ditambahkan catatan. Bila ada anggota yang memposting karya tidak sesuai dengan manifesto di atas, admin akan mengembalikan postingan anggota dan menghapusnya.
Dengan mengusung semboyan/ tagline: “We Draw What We Witness”, IS menekankan pada sketsa sebagai benar-benar hasil “tangkapan” langsung apa yang dilihat, bukan “imajinasi murni” ataupun photo re-work, demikian ungkapan seorang pengurus inti dalam mengingatkan para anggotanya. Meskipun demikian, karena latar belakang yang sangat beragam dari para anggotanya, tetap saja kerap kali terjadi perbedaan pandangan untuk menafsirkannya, termasuk pemahaman anggota terhadap karya sketsa. Di lain pihak, IS sangat membuka berbagai kemungkinan bentuk ungkapan karya sketsa, tidak juga menganut pada pengertian di kamus atau definisi sketsa manapun, melainkan yang penting berkarya, berproses, dan sketsa dilakukan on lacation atau live sketching.
Dalam hal peningkatan kualitas, terdapat saran yang menarik dari anggotanya, yakni IS harus ketat dengan Visi dan Manifestonya, terutama yang bertalian dengan isi dan konteks berkarya, sehingga bukan hanya persoalan teknik dan subyektivitas sketser yang muncul. Sesuai dengan manifestonya, IS hendaknya merupakan ajang saling bertukar ceritera melalui sketsa. Di lain pihak, ada yang menyarankan agar lebih terbuka, karya sketsa tidak semata sebagai jurnalisme visual sebagaimana pada Urban Sketchers, melainkan lebih dari itu, di samping pengubahan nama komunitasnya menjadi Komunitas Sketsa Langsung jika memang cara menghasilkan sketsa semacam itu.

Tema dan Obyek Karya
Dari segi tema, karya-karya sketsa para anggota IS dapat dikelompokkan menjadi (1) bangunan, (2) ruang publik, dan ruang privasi, (3) landscape perkotaan maupun pedesaan, (3) manusia dan aktivitasnya, (4) pasar dan pedagang, (5) kendaraan dan transportasi, (6) kesenian/ budaya, (7) binatang, (8) tumbuh-tumbuhan, (9) benda-benda dan produk makanan. Dari setiap tema dapat dirinci ke dalam obyek-obyek yang menjadi sasaran perhatian para sketser untuk diwujudkan menjadi karya sketsa. Sejumlah kecil obyek yang digambar ada yang sangat spesifik, sehingga sulit untuk diklasifikasikan ke dalam tema-tema tersebut. Misalnya obyek gardu listrik, tiang listrik di tepi jalan, alat-alat berat semacam bego, pesawat tempur, dan persimpangan rel kereta api.
Dalam tema bangunan, obyek-obyek yang menarik perhatian para sketser yang tergabung dalam komunitas IS mencakupi bangunan tua, misalnya bangunan keraton, candi, masjid tua, gereja, klenteng, pura, gerbang, benteng, dan sebagainya, serta bangunan-bangunan baru atau modern yang umumnya terdapat di perkotaan, misalnya gedung bertingkat, hotel, pertokoan, bangunan rumah di tepi jalan raya, dan semacamnya. Karya sketsa dengan tema bangunan paling digemari, karena itu paling banyak jumlahnya (21,4%) dibanding tema lainnya. Hal ini terkait pula dengan kecenderungan Urban Sketchers yang menjadi inspiratornya.
Selanjutnya, ke dalam tema ruang publik misalnya sketsa yang mengambil obyek taman, tempat-tempat rekreasi, alun-alun, kemudian stasiun, bandara, terminal, pelabuhan, tempat-tempat bersantai dan makan minum yakni resto, cafe, coffeeshop, rumah makan, warung makan, dan lain-lain. Suasana interior baik untuk umum maupun yang lebih bersifat privasi misalnya ruang kerja berikut perabotnya, kemudian eksterior semisal sebuah teras, halaman rumah dimasukkan ke dalam bagian tema ini, sebesar 13,6%.
Sketsa dengan tema landscape sebesar 9,5%, para sketsernya mengambil obyek-obyek scene perkotaan, perkampungan, maupun pedesaan, serta obyek-obyek panoramik lainnya seperti gunung, sawah, dan dangau. Tema manusia dalam berbagai aktivitasnya merupakan tema yang juga banyak dipilih setelah tema bangunan, sebesar  18,7%. Yang menjadi obyek mulai dari potret seseorang, sosok utuh dalam sikap berdiri, duduk, dan lain-lain, sampai kepada obyek-obyek anggota badan, misalnya kaki dan tangan. Lalu juga obyek sosok manusia sebagai penari, pemusik, pengamen, pemulung, pekerja bengkel, pekerja pembangunan, dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam keadaan sendirian, dengan beberapa sosok lainnya, maupun dalam kerumunan.



Gambar 1. Gereja.
 Sebuah sketsa tematik Bulan Desember karya Atit Dwi Indarty sebagai satu contoh obyek bangunan tua di Jakarta

Gambar 2. Ruko Harapan Indah.
.Sebuah sketsa minggu pagi menggunakan tinta dan cat air karya Yanuar Ichsan. 
Contoh sketsa yang mengambil obyek bangunan modern

Tema berikutnya yang dipilih ialah tema pasar dan pedagang, yakni sebesar 7%, dengan obyek-obyek pasar tradisional, pasar burung, kios yang banyak menempati pinggir jalan, dan para pedagang asongan maupun pedagang kaki lima (PKL), misalnya penjual bakso, angkringan, penjaja makanan dan minuman, pejual sayur, dan lain-lain. Kemudian tema kendaraan dan transportasi yang juga cukup banyak peminatnya antara lain dengan obyek bemo, kereta, mobil, becak, perahu, kapal, pesawat, truk, loko, gerobak, dokar, termasuk obyek suasana di dalam angkutan, misalnya dalam bus, angkot, kereta, pesawat, dan lain-lain sebesar 7,4%.
Tema kesenian/ budaya, meskipun tidak banyak, kurang dari 3%, terdapat pada karya-karya sketsa yang mengambil obyek misalnya pertunjukan wayang kulit, ondel-ondel, ogoh-ogoh, upacara pernikahan, kirab, sekaten, gunungan, miyos gangsa, dan idul kurban. Tema binatang, seperti pengambilan obyek-obyek kucing, anjing, kerbau, ayam, kuda, kancil, kura-kura, dan ikan juga ada meskipun tidak banyak, yang hanya 2,9%. Demikian pula tema tumbuh-tumbuhan, dengan obyek pepohonan, nyiur, pohon pepaya, bambu, tanaman merambat hingga ranting, ada tidak terlalu banyak, sekitar 3,4 %. Sementara tema benda-benda dengan obyek botol, sepatu, alat tulis, kamera, kaca mata, lipstik, mouse, stappler, alat-alat pertanian, pot, tempat sampah, baju, sendok-garpu, produk makanan dan buah-buahan, dan lain-lain hampir mencapai 11%.
 Pada umumnya tema dan obyek dipilih karena alasan obyeknya memiliki bentuk menarik, unik, dan indah, sehingga merasa perlu untuk diinformasikan baik mengenai obyek itu sendiri maupun hal-hal yang bertalian di luarnya. Beberapa di antaranya mengaku karena mereka sering melihat atau memilikinya sehingga sangat mengenali obyeknya. Tetapi ada pula yang mengaitkannya dengan identitas dan sangat bertalian dengan aktivitas masyarakat sekitar, karena itu penting untuk diungkapkan dan disampaikan.


Gambar 3. Taman Kecil Tak Terawat. Tinta dan cat air
 Sebuah sketsa bertema ruang publik berupa taman
karya Antown Holic.


Gambar 4. Coffeshop.
Sebuah sketsa bertema ruang publik masyarakat urban menggunakan tinta dan pensil warna karya Donald Saluling


Media dan Teknik Bersketsa
Media yang digunakan untuk mengerjakan sketsa yang dilakukan para sketser IS bermacam-macam. Dari pengamatan terhadap 724 karya sketsa, tinta merupakan media yang paling banyak digunakan (38,5%). Termasuk media tinta ialah pemakaian drawingpen, ballpoint, spidol, marker, boxy, tinta cina dengan pena atau kuas, yang digunakan dalam penyajian hitam putih. Kemudian pemakaian media tinta yang disajikan dengan nada-nada tengah (halftones) atau nada keabu-abuan (greyscale) dengan cara pembasuhan tinta (wash) atau dengan penambahan goresan maupun dusel pensil. Penggunaan media tinta dengan halftones ini ada sekitar 5,8 %. 


Gambar 5. Penjual Tongseng
 Sebuah sketsa bertema pedagang menggunakan tinta karya Yoso Banyudono
Teks di bagian kiri atas merupakan storytelling singkat tentang sketsa tersebut.


Gambar 6. Nonton Wayang.
 Sebuah sketsa bertema kesenian/ kebudayaan menggunakan tinta dengan  rendering arsir 
yang halus. Karya Dadang Pribadi
 
Berikutnya ialah penggunaan media tinta dengan cat air. Pewarnaan dengan cat air setelah sketsa dikerjakan dengan tinta, ternyata cukup digemari para sketser IS, hingga mencapai 34,3 %, baik pewarnaan secara monokromatik yang hanya menggunakan satu warna maupun polikromatik yang menggunakan banyak warna. Sejumlah di antaranya yakni sebanyak 5,1 %, sketsa dikerjakan melulu dengan cat air menggunakan kuas sehingga sangat mirip dengan pengerjaan lukisan.
Sketsa yang dikerjakan menggunakan pensil saja mencapai 12,1%. Rupanya pensil merupakan media pilihan kedua setelah tinta. Termasuk media pensil ialah berbagai jenis pensil, mencakupi pensil warna dan pensil arang (konte). Media lainnya yang lebih sedikit digunakan ialah media digital dan penggunaan media campur (mixmedia), masing-masing sekitar 2%.
Teknik penyajian karya sketsa dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni penggunaan garis murni tanpa render dan dengan rendering. Yang tanpa dirender, hanya sekitar 13,9% tersaji dalam bentuk (1) kontur, (2) gestur, dan (3) campuran. Penyajian sketsa dengan rendering banyak dilakukan, hampir mencapai 86%. Rendering sketsa menggunakan (1) arsir, baik yang rinci maupun seperlunya, (2) blok atau spot, dan (3) pewarnaan. Teknik arsir paling banyak dilakukan, mencapai 45%, kemudian dengan mewarnai mencapai 39%, selebihnya dengan teknik blok yakni dengan penambahan bidang atau bercak-bercak hitam yang kurang dari 2%. 


Gambar 7. Bemo-bemo
 Sebuah sketsa bertema transportasi. Karya dengan goresan dan sapuan sederhana namun efektif. Media tinta dan cat air pada sketchbook. Karya Widiyatno
 

Gambar 8. Kucing
Sebuah sketsa bertema binatang. Media pensil. Renderingnya tidak berlebihan namun tetap dapat mensugesti bentuk obyeknya. Karya Anissa
  
Ungkapan Bentuk dan Pesan Karya Sketsa
Mengenai pendekatan atau gaya karya sketsa, sebagian besar (67,54%) karya sketsa tergolong impresionistik dan dikerjakan dengan tidak terlalu rinci. Bentuk ungkapan impresionistik cukup menampilkan kesan-kesan obyeknya atas hasil tangkapan sesaat dari kegiatan menggambar langsung dan hal ini merupakan kecenderungan umum dalam karya sketsa. Sebesar 23,75% dikerjakan sangat rinci, presisi, dalam gaya realistik. Penyajian gaya realistik umumnya dilakukan oleh mereka yang memiliki kecermatan kuat dalam menggambar dan kebiasaan mereka dalam membuat gambar ilustrasi. Sketsa jenis demikian lebih merupakan gambar lengkap dan tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Gambar 9. Speda di Pohon
Sketsa bergaya realistik menggunakan tinta dengan teknik rendering yang rinci menyajikan gambar lengkap.
Karya Dhar Cedhar


Gambar 10. Pemulung
Media pensil. Sebuah sketsa realistik yang diselesaikan 
dengan arsiran seperlunya bertema sosok manusia, 
yang menyentuh kehidupan manusia. Karya Ivanda Ramadhani
Sebagian lagi sebesar 6,76% termasuk dalam pendekatan ekspresif, dengan sentuhan emosi dan spontanitas yang kuat, sehingga terdapat distorsi bentuk. Sketsa dalam jumlah yang tidak terlalu banyak ini lebih menampilkan karakteristik sebuah sketsa dan lebih punya “greget”. Goresan spontan, dengan tarikan garis-garis lancar yang dikerjakan dalam waktu singkat, kemudian penyajian yang sederhana, esensial, dengan intensitas emosi yang menyertainya merupakan kekuatan karya sketsa tersebut. 


Gambar 11. Taman Makam Prasasti 
Sketsa ekspresif-impresionistik karya Indra Gunadharma menggunakan tinta yang dilengkapi dengan aksen blok dan goresan yang mensugesti massa bentuknya.
 

Gambar 12. Tamansari
Sketsa ekspresivistik karya Faisal Amir, memperlihatkan goresan spontan dan cepat, sugestif, distorsif.  Media tinta yang dipadu dengan nada tengah dan percikan

Gaya lain yang juga dalam jumlah kecil (1,65%) ialah dekoratif melalui stilisasi. Bahkan ada pula yang diabstraksikan sehingga sangat sulit dikenali kembali obyeknya dan tampilan bentuk transformatif. Dalam hal sketsa yang menjadi abstrak dan bentuk yang transformatif, tentulah kurang sejalan dengan manifesto yang diusung IS, karena karya yang demikian itu mengesampingkan segi naratifnya serta lebih merupakan hasil imajinasi daripada ungkapan apa adanya sesuai dengan hasil tangkapan mata. Bagaimanapun, gejala ini menunjukkan bahwa sketsa dapat diwujudkan dalam bentuk yang beragam, mulai dari bentuk-bentuk yang sangat mirip dengan obyeknya hingga pada bentuk-bentuk gubahan yang jauh dari reperesentasi obyeknya.



Gambar 13. Ibu dan Anak
 Sketsa karya lama Junita Bahari Nonci yang mengabstraksikan bentuk dan di-posting di wall Indonesia’s Sketchers.
 
Tidak semua sketser mempunyai pesan di balik pemilihan obyek karyanya. Tetapi sejumlah di antaranya, dapat diketahui bahwa melalui karya-karya sketsa yang dihasilkan, pesan-pesan yang ingin disampaikan para sketser ialah (1) penyampaian infomasi dan komunikasi, (2) ungkapan keanekaragaman, (3) cinta dan perhatian, (4) potret dan kritik sosial, dan (5) berbicara tentang kemanusiaan.
Pesan yang terkait dengan penyampaian informasi dan komunikasi lebih menggambarkan dan mempraktikkan semangat berbagi ceritera tentang apa yang terdapat dan terjadi di lingkungan sekitar para sketsernya. Pemikiran ini sangat sejalan dengan visi dan manifesto IS. Melalui karya-karya sketsa yang disuguhkan dapat diketahui oleh orang lain tentang obyek, hal atau peristiwa, kebiasaan dan tradisi masyarakat, atau apa saja yang menarik perhatian sketser untuk disampaikan.
Melalui karya sketsa pula pesan tentang adanya keanekaragaman yang terkandung di dalamnya  ingin disampaikan. Selain lebih membuka wawasan tentang berbagai obyek yang dapat direkam dalam karya sketsa dengan bermacam cara dan berdasarkan pandangan setiap sketsernya, pesan ini akan membuka kesadaran orang akan adanya keanekaragaman suatu obyek, baik yang diciptakan manusia maupun obyek-obyek ciptaan Tuhan. Pesan tentang ungkapan keanekaragaman sesungguhnya juga sejalan dengan semangat untuk bertutur dalam berkarya sketsa.
Sementara pesan tentang cinta dan perhatian, selain terkandung pengertian untuk berbagi ceritera, sebagai seorang pribadi, seorang sketser juga ingin menunjukkan bahwa ia memiliki perhatian dan perasaan terhadap suatu obyek atau hal yang berbeda dengan orang lain. Kemudian atas hasil pengamatan, pemahaman, dan sikap terhadap gejala yang terjadi di lingkungan sosial, melalui karya sketsa, seorang sketser menyampaikan pesan potret dan kritik sosial. Bagaimana sekelompok masyarakat menghargai karya budaya, menjaga dan merawat warisan budaya atau sebaliknya meninggalkan dan mencampakkannya, kegiatan dan kebiasaan suatu masyarakat dalam menyikapi lingkungan, misalnya, dapat tersajikan di balik obyek-obyek pilihan sketsernya. Potret masyarakat dengan pribadi-pribadi yang unik dalam berbagai kegiatan dan persoalan yang dihadapi untuk memperjuangkan kehidupannya masing-masing, dapat ditemukan dan diangkat menjadi tema berkarya sketsa, yang di dalamnya syarat mengandung persoalan kemanusiaan.


Simpulan dan Saran
Sebagai bagian dari gambar, sketsa merupakan karya catatan yang umumnya dibuat dalam waktu singkat dengan tujuan yang bermacam-macam. Sebagian di antaranya merupakan rekaman visual atas pengamatan langsung, menceriterakan obyek yang menarik perhatian pembuatnya, sebagian lainnya untuk sarana ungkapan pikiran dan perasaan pembuatnya, sampai kepada keinginan mengkomunikasikan gagasan serta menitipkan pesan-pesan.
Berbagai bentuk ungkapan sketsa para sketser yang tergabung dalam komunitas Indonesia’s Sketchers menunjukkan keanekaan tema dan obyek sketsa, gaya, penggunaan media dan teknik, pesan yang diinginkan, serta wawasan terhadap karya sketsa, sesuai dengan beragamnya latar belakang yang dimiliki oleh setiap anggota komunitas. Salah satu kesamaan pandang dalam berkarya sketsa ialah kehadiran sketsa yang dilandasi oleh pengamatan langsung terhadap obyeknya. Aneka bentuk ungkapan dan pesan yang terkandung dalam sketsa para anggota IS dengan latar belakang para sketser yang beragam telah menjadikan sketsa sebagai karya yang karakteristiknya mencair, meluas, dan berkembang sehingga sulit ditentukan batas-batasnya dengan karya gambar bahkan lukisan.
Mengingat bahwa komunitas IS merupakan grup terbuka, diperlukan pengelolaan dan pengorganisasian yang lebih ketat dan solid dengan melaksanakan program-program secara konkret dalam rangka meningkatkan kualitas karya-karya sketsa yang di-posting, sehingga memiliki andil yang nyata dalam percaturan di tingkat global.
Sesuai dengan nama komunitas yang langsung menunjuk pada sketser Indonesia, hendaknya lebih terbuka menampung bermacam pewacanaan sketsa, sehingga tidak harus berkiblat pada komunitas lain dengan visi dan misi yang bisa berbeda. Jejaring sosial seperti facebook merupakan salah satu media yang ampuh untuk memamerkan karya-karya sketsa dan ajang berbagi pengalaman terkait dengan berkarya sketsa, karena itu hendaknya dimanfaatkan secara optimal dan mampu menyebarluaskan karya-karya sketsa anak negeri pada tataran dunia.


Kamis, 24 Desember 2009

SKETSA

SEKELUMIT TENTANG SKETSA
Oleh: Aryo Sunaryo

catatan: Tulisan ini pernah dibuat dalam rangka penerbitan Hasil Lomba Sketsa Arsitektur Stasiun KA Tawang Semarang, 12 Desember 1999.
Untuk melengkapinya, pada blog ini ditambahan gambar ilustrasinya.



I.
Sketsa atau sket (sketch) secara umum dikenal sebagai bagan atau rencana bagi sebuah lukisan. Dalam pengertian itu, sketsa lebih merupakan gambar kasar, bersifat sementara, baik di atas kertas maupun di atas kanvas, dengan tujuan untuk dikerjakan lebih lanjut sebagai lukisan. Mengingat sederhana penampilannya, sketsa lebih merupakan “persiapan” dari lukisan yang akan datang, demikian tulis Putu Wijaya.

Menurut Meyers (1969) sketsa merupakan gambar catatan. Ia membedakannya dengan gambar karya lengkap dan gambar karya studi. Dalam karya studi, gambar merupakan eksplorasi teknis atau bentuk untuk penyelesaian lukisan, patung, dan lain-lain. Biasanya penggambarannya menyoroti rincian dari bagian-bagian tertentu, misalnya anatomi kepala, tangan atau bahu, draperi, dan sebagainya dalam memp
elajari bentuk orang. Gambar semacam ini misalnya, dikerjakan oleh Leonardo da Vinci (1452-1519) dan Michaelangelo (1475-1564).



Gambar karya lengkap merupakan karya final, gambar sebagai karya jadi. Sebagai ungkapan dalam bentuk gambar, ia berfungsi sebagai sarana komunikasi, mendeskripsikan dan menjelaskan objek-objek secara visual, sebagaimana karya ilustrasi visual. Gambar karya lengkap berdiri sendiri sebagai karya yang selesai, seperti karya-karya lukis atau patung.

Dalam sketsa, kata Meyers, terdapat keinginan pembuatnya untuk merekam kejadian atau objek yang dilihat sebagai momen yang menarik perhatian penggambarnya. Sketsa mungkin dibuat untuk memenuhi kebutuhan sebagai latihan, main-main, atau semacam ungkapan pribadi. Dalam hal yang terakhir, karya sketsa dipandang setara dengan lukisan. Oleh karenanya, Agus Dermawan T ketika mengomentari sketsa-sketsa karya Ipe Ma’roef (1938 -) seorang empu sketsa Indone
sia, mengungkapkan sebagai lukisan garis. Ungkapan ini sekaligus menegaskan, bahwa garis perannya amat menonjol dalam sebuah sketsa.

Meski bagi Fajar Sidik (1981) garis atau penggarisan merupakan unsur yang paling menonjol hakiki dalam seni lukis, namun pada dasarnya terdapat perbedaan antara sketsa dengan lukisan. Ada ungkapan yang menarik yang disampaikan oleh Kusnadi, seorang seniman dan kritikus seni rupa. Sketsa ibarat gesekan biola tunggal, sedangkan lukisan merupakan sebuah orkes yang lengkap. Ungkapan ini menyatakan dua hal, pertama, sketsa sebagai ungkapan estetis dihadirkan secara sangat sederhana karena menggunakan garis secara hemat dan selektif. Umumnya sketsa dikerjakan dengan cepat dan secara spontan. Jika sketsa dibangun oleh unsur-unsur garis sebagai medium utamanya, lukisan meru
pakan ungkapan lengkap, dalam arti penyajiannya dibangun dengan menggunakan unsur-unsur lain, seperti tekstur, kedalaman/ruang, gelap-terang, dan warna di samping unsur garis. Bahkan dalam lukisan, unsur warna menjadi penting sebagai unsur tambahannya (Schinneller,1966).

Kedua, baik sketsa maupun lukisan merupakan ungkapan artistik yang bersifat pribadi. Aspek ungkapan yang bersifat pribadi ini lebih penting dari pada aspek lain yang bersifat informat
if-naratif. Melalui sketsa, pembuatnya dapat mengungkapkan pengalaman yang bersifat pribadi dengan total. Sebagaimana gesekan biola yang mendayu mengiris kalbu, sketsa dapat menggetarkan perasaan orang yang melihatnya, sama halnya dengan sebuah lukisan. Jadi, sketsa bukan lagi sebagai bagian dari perencanaan sebuah lukisan, melainkan memiliki otonomi sendiri, berdiri sejajar dengan lukisan. Dengan demikian, sikap berkarya sketsa sama dengan ketika akan berkarya lukisan. Ingat saja karya-karya Vincent van Gogh (1853-1890), pelukis ekspresionis Belanda itu.

Semasa hidupnya yang pendek, ia telah menyelesaikan kira-kira 3000 sketsa di samping 800 lukisan cat minyak. Baginya sikap membuat gambar atau sketsa sama dengan sikap membuat lukisan. Perasaan dan emosi sangat memegang peranan. Begitulah, karya-karya sketsanya sebagai gambar
ekspresif. Dari sisi intensitas ekspresivitas, sejumlah karya sketsa beberapa pelukis bahkan tampil lebih kuat dan menarik, meski hanya berupa goresan-goresan hitam putih atau sebagai gambar rencana lukisan sekalipun. Sketsa karya Poussin (1593-1665) yang berjudul “Massacre of the Innocents” misalnya, rasanya lebih menarik dari pada lukisannya dengan judul yang sama. Daya tarik dan kekuatan-kekuatan serupa juga dapat dijumpai pada karya-karya sketsa pelukis Delacroix (1798-1863), Tiepolo (1690-1770), bahkan juga pada sketsa karya Auguste Rodin (1840-1917) dan Henry Moore(1898-1986) pematung kenamaan itu.

II. Sebagaimana halnya dengan karya lukisan, sketsa memiliki keragaman tema, gaya dan teknik pengungkapannya. Perbedaan yang mencolok hanyalah pada medium pengucapannya.

Mengenai tema, sketsa lebih banyak dikaitkan dengan subjek yang diangkat dari penggarapan objek-objek out door, mengingatkan orang pada kaum impresionis di abad XIX dengan out
door painting-nya itu. Dalam hal ini, pemandangan di luar seperti kebun, ladang, jalan-jalan, perkampungan padat, keramaian kota, bangunan-bangunan, dan kesibukan-kesibukan orang di pasar, merupakan objek-objek menarik yang menggugah penggambar atau pelukis untuk membuat sketsa melalui pengalaman melihat langsung. Rupanya kontak langsung melalui pengamatan untuk mendapatkan impresi dan mengembangkan imaji menjadi bagian penting dari proses penciptaan dan pemilihan tema dalam sketsa. Itulah sebabnya sketsa dipandang sebagai rekaman atas objek atau peristiwa yang menarik perhatian penggambarnya. Dengan proses kerja seperti itu, tentulah banyak diperoleh keuntungan. Antara lain mempertajam pengamatan, meningkatkan kepekaan dan kemampuan mengkoordinasikan antara hasil pengamatan dengan keterampilan tangan. Di lembaga-lembaga pendidikan seni, sketsa masih dipercaya sebagai latihan-latihan yang wajib dilakukan bagi mahasiswa, dalam rangka menumbuhkan dan mengkukuhkan keprofesionalannya.








Dalam perkembangannya, sketsa ke
mudian tidak hanya menampilkan objek-objek nyata yang kasat mata dan dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, melainkan terjadi perkembangan tema-tema sketsa. Munculah tema sketsa yang lebih merupakan pernyataan imaji, impian, kesan-kesan, dan pikiran-pikiran penciptanya dan lebih abstrak. Sketsa pelukis Nashar (1928- ) misalnya, yang dipamerkan di Jakarta tahun 1976, dipandang Putu Wijaya telah membebaskan garis sebagai batas dari wadag. Garis tersebut telah dibiarkan hidup sebagai garis, menjadi wadag itu sendiri dalam kubungannya dengan kesan-kesan yang diperoleh batin pelukisnya. Atau dapat saja kesan-kesan dalam pelukis Oesman Effendi yang amat subjektif atas apa yang diamatinya itu, mewujudkan sketsa-sketsa yang hilang sosoknya dan berubah menjadi permainan irama garis. Rudi Isbandi ( 1937- ) pelukis asal Surabaya, pernah membuat sketsa berjudul “Kali Mas” dan yang tinggal dalam karyanya hanyalah berupa garis-garis seperti kawat namun sangat esensial, sehingga menjadi abstrak. Pelopor lukisan abstrak Indonesia, Fajar Sidik (1930- ) membuat sketsa-sketsanya terbebas dari kenyataan visual dan bergaya abstrak.

Mengenai gaya sketsa, hampir penciptanya mengembangkan gaya pribadi masing-masing sesuai dengan cita rasa dan tanggapannya atas lingkungan. Tetapi sebagai kecenderungan cara dan corak ungkapan karya, barangkali dapat dikelompokkan menjadi beberapa saja.

Untuk menyebut kecenderungan yang berkembang di sekitar kita, aganya dapat dikelompokkan menjadi sketsa yang bercorak figuratif, baik yang realistis, ekspresionistis, maupun dekoratif, kemudian corak surealistis-imajinatif dan corak abstrak.

Ipe Ma’roef dan kebanyakan pelukis sketsa, karya-karyanya dapat dikelompokkan ke dalam sketsa figuratif-realistis. Corak figuratif-realistis meski dimanifestasikan dengan garis yang sederhana dan hemat, secara keseluruhan menunjukkan hasil pengamatan yang cermat atas objek nyata dan masih setia pada proporsi, anatomi, dan gejala perspektif sebagaimana yang diberikan oleh alam atau kenyataan visual.

Jika karya-karya sketsa Ipe kebanyakan termasuk corak figuratif-realistis, sketsa-sketsa Affandi (1907-1988), Nyoman Gunarso (1944- ) dan Suwaji (1942- ) merupakan contoh sketsa figuratif ekspresionistis. Pada corak sketsa ini didorong oleh gejolak emosi dan spontanitas yang kuat, sosok atau bentuk-bentuk yang digambarkan mengalami pendistorsian. Tubuh orang, misalnya, dibuat meliuk-liuk mengikuti irama dan getaran emosi sehingga mengesampingkan proporsi yang wajar. Pelukis Widayat (1923- ) membuat sketsa figuratif-dekoratif dan surealistis-dekoratif. Kegemarannya melakukan stilisasi dan gubahan-gubahan ornamentik dalam lukisannya, menampak pula pada karya sketsanya.

Sketsa surealistis yang naïf kekanak-kanakan, yang menggambarkan alam bawah sadar dan penuh khayalan serta terasa absurd dapat dilihat pada karya pelukis muda Eddie Hara (1957- ). Jika Nashar dan Oesman Effendi membuat sketsa-sketsa semi abstrak, Fajar Sidik dan beberapa perupa muda membuat sketsa abstrak murni. Sketsa Fajar Sidik berupa pola-pola bidang organis yang tertata secara ritmis, mengingatkan pada lukisannya “Dinamika Keruangan” yang menjadi gayanya yang khas.

Dalam perjalanannya, dilihat dari segi teknik, sketsa belum seanekaragam lukisan. Barangkali karena pada sketsa, penggambarannya hanya mengandalkan garis sebagai medium pengucapannya. Soal garis, Read (1959) pernah bilang bahwa garis merupakan sarana yang paling singkat dan abstrak untuk melukiskan mutu objek.

Melalui garis, dapat dibangun raut atau bentuk, bidang, tekstur, ruang, atau gelap terang dengan arsir dan garis-garis silang, misalnya. Unsur warna, dapat saja dihadirkan dalam karya sketsa. Tetapi pada dasarnya warna garislah yang lebih berbicara. Justru penyajian hitam-putih merupakan kekuatan sketsa.

Membicarakan soal teknik tak dapat dilepaskan dari penggunaan bahan, alat, serta proses penyajian karya. Bahan dan alat yang sering disebut media, dalam penciptaan sketsa biasanya adalah pensil dan arang serta media kering lainnya, juga tinta, yang menggunakan kuas, pena atau alat lain sebagai media basah. Pensil dan arang merupakan media yang fleksibel serta dapat menghasilkan jejak-jejak yang cukup bervariasi. Namun kecuali mudah terhapus, umunya nilai kepekatannya kurang.

Penggunaan media basah dalam sketsa menampilkan goresan yang pekat, jelas, dan memiliki kemungkinan untuk divariasikan pula penggunaannya. Adakalanya kepekatan garis-garis dipadukan dengan cara bilas, yaitu membasahi atau menyapukan kuas basah dengan air. Cara demikian, dapat memperoleh objek efek khusus dan variasi nada atau nilai gelap terang, karena goresan tinta menjadi luntur dan mengembang. Tetapi upaya-upaya ini dalam sketsa dilakukan tidak untuk kepentingan membuat rincian yang berlebihan; sketsa yang baik haruslah tetap sumir dan menghindari penyajian rincian yang kurang esensial.

Bagaimanapun, garis merupakan unsur rupa yang fundamental dan potensial dalam karya sketsa, ia tidak semata membentuk kontur. Potensi lain dari garis ialah kemampuannya mengekspresikan gerakan-gerakan, ruang atau kedalaman, dan mengesankan massa bentuk. Potensi-potensi inilah yang harus dikuasai oleh pembuat sketsa beserta pemilihan dan pemanfaatan media dalam mencapai nilai-nilai artistik karya.

Terdapat dua pendekatan dalam menggunakan garis sebagai medium ungkapan sketsa. Pertama, pendekatan kontur dan yang kedua pendekatan gestur.

Pada pendekatan kontur, sketsa dihadirkan dengan garis-garis tunggal seakan tak terputus, sebagai batas yang mengelilingi bentuk subjek-subjeknya, tanpa harus kehilangan spontanitasnya. Garis-garis yang dikerjakan secara free-hand itu, tampak eksplesit, tajam dan presisi. Tak ada garis yang salah. Tak ada garis yang diulang dan berlebihan, apalagi arsir dalam sketsa itu. Picasso (1881-1973), Henri Matisse menciptakan sketsa dengan cara ini. Meski garis-garis mereka dibuat dengan tarikan sekali jadi dan dengan ketebalan yang sama, dengan susunan tertentu dan pemenggalan-pemenggalan kontur di tempat-tempat yang pas, dapat dihadirkan kesan ruang dalam sketsanya. Pengaturan bagian-bagian yang kosong menjadi penting dalam menyatakan kesan ruang. Demikianlah, tarikan garis sekali jadi amat menentukan dalam sebuah sketsa. Ipe mengibaratkan sketsa sebagai teater. Sekali pemain muncul di panggung, tak ada kesempatan untuk meralat kekeliruan, lain dengan dunia film yang diibaratkan melukis dengan cat minyak.

Pada pendekatan gestur, sketsa dibentuk oleh garis-garis yang dihadirkan dengan gesekan-gesekan tangan secara kontinyu sepanjang proses penciptaan. Dengan cara ini, bentuk sketsa lebih merupakan impresi tetapi mencitrakan gerak dan bentuk menjadi mengabur, karena dibangun oleh garis riuh bertindihan dan liar, sejalan dengan reaksi emosi yang bergelora ketika penggambarnya menghadapi objek. Jika dengan pendekatan kontur bentuk dirumuskan dengan garis tunggal, pada pendekatan gestur disugestikan dengan garis-garis jamak. Pelukis-pelukis seperti Vincent van Gogh, Daumier (1808-1879) atau Affandi membuat sketsa dengan pendekatan gestur. Baik pendekatan kontur maupun gestur, proses penggarapan sketsa dilakukan dengan teknik langsung (direct method), dalam arti dikerjakan sekali jadi tanpa melalui tahapan-tahapan. Oleh karena itu waktu pengerjaannya berjalan dengan singkat, tetapi dengan segenap jiwa yang intens dan total.

III. Demikian, sebagai bentuk ungkapan pengalaman estetis, sketsa memiliki karakteristik kegarisan, sumir, esensial, dikerjakan secara langsung dan spontan dalam waktu singkat. Ia tidak semata berupa kontur dan garis gestur yang riuh tanpa arti, ia tidak hanya rekaman objek, melainkan ungkapan emosi dan kesan-kesan dalam sampai pada ke tingkat esensi objek, bahkan hingga bernilai simbolik untuk menyatakan gagasan dan khayalan penciptanya. Ia dapat mempresentasikan kenyataan fisik yang dijumpai pada kehidupan sehari-hari sampai kepada pernyataan dunia batin yang lebih dalam dan abstrak.

Sungguh merupakan upaya yang perlu disambut dengan gembira, bila ada beberapa pihak yang mendukung dan menerbitkan kumpulan karya-karya sketsa, khususnya sketsa dengan objek arsitektur stasiun K.A Tawang yang dikerjakan sepuluh mahasiswa pemenang lomba sketsa baru-baru ini. Mudah-mudahan dapat meningkatkan apresiasi dan berdampak luas menggerakkan dunia sketsa yang semakin lesu.
Semoga…!






Daftar Pustaka

Bentara Budaya Jakarta. 1995. Garis dan Warna: Proses Kreatif Ipe Ma’roef. Jakarta: PT. gramedia Pustaka Utama
Bersinar Lubis. 1995. “Goresan sebuah Puncak”, artikel dalam Gatra 22 Juli 1995
Meyers S. Berray, 1969. Understanding the Arts. New York: Rinehart & Winst
Peter & Linda Murray. 1988. Dictionary of Art & Artists. London: Penguin Book
Read, Herbert. 1959. The Meaning of Art. Toronto: Penguin Book Ltd
Schinneller, J.A. 1966. Art Search and Self Discovery. Pensylvania: International Text Book Company
Sidik, Fajar & Aming P. 1981. Desain Elementer. Yogyakarta: STSRI ASRI
Simon, Howard. 1968. Teghniques of Drawing. New York: Dover Publiations Inc
Sunaryo, Aryo. 1990. “Garis, Medium Ungkapan yang Potensial”. Makalah dalam diskusi dalam rangka pergelaran seni di IKIP Ujung Pandang
Toney, Anthony. 1966. Creative Painting and Drawing. New York: Dover Publiations Inc.
Wijaya, Putu. 1976. “Kesan-kesan Dalam” Artikel dalam Tempo 27 November 1976
Wijaya, Putu. 1976. Sketsa-sketsa Henk Ngantung, dari Masa ke Masa. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan